Organisasi Wartawan Dan Jurnalis Akan Demo Besat Besaran Kepung Kampus Unsika Atas Dugaan Oknum Humas Lontarkan Kata Kotor
Dugaan melontarkan kata kasar dengan menyebut seorang wartawan “goblok”, sehingga memicu kecaman dari kalangan jurnalis di Kabupaten Karawang. Sikap tidak pantas dilakukan oleh oknum Humas Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) terhadap wartawan menuai sorotan tajam.
Peristiwa itu menimpa seorang jurnalis perempuan bernama Nina Melani yang bertugas di media online onediginews.com. Saat itu Nina menerbitkan sebuah berita terkait temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) soal dugaan kejanggalan proyek pengadaan senilai setengah miliar lebih.
“Oknum humas bernama Nurhali telepon saya marah-marah dan meminta berita dihapus. Dia juga mgancam akan melarang saya liputan ke unsika dan menyebut goblok,” ujar Nina. Melansir dari media online Pojoksatu.
Menanggapi hal itu, Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Kabupaten Karawang, Joen, SH., mendesak pihak rektorat Unsika segera mengambil langkah tegas. Ia menilai perilaku tersebut tidak mencerminkan etika komunikasi yang seharusnya dimiliki oleh perwakilan institusi pendidikan tinggi.
Sebagai institusi akademik, Unsika seharusnya menjadi contoh dalam etika komunikasi dan keterbukaan informasi. Jika benar ada ucapan tidak pantas kepada wartawan, apalagi sampai menyebut ‘goblok’, itu jelas tidak mencerminkan sikap orang terdidik,” tegas Joen dalam keterangannya, Kamis (19/2/2026).
Menurut Joen, peran humas sangat strategis karena menjadi garda terdepan dalam membangun komunikasi publik dan menjaga citra institusi. Karena itu, sikap arogan atau ucapan yang merendahkan profesi wartawan dinilai berpotensi merusak reputasi kampus.
Ia menegaskan, polemik ini tidak boleh dianggap sepele. Jika tidak ada evaluasi serius terhadap oknum tersebut, dampaknya bisa memperburuk citra Unsika sebagai perguruan tinggi negeri.
“Kalau tidak ada langkah tegas dan oknum tersebut masih dipertahankan, citra Unsika bisa semakin rusak. Ini tentu sangat merugikan institusi sebagai lembaga pendidikan yang seharusnya menjunjung tinggi etika dan profesionalisme,” ujarnya.
Lebih lanjut, Joen mengingatkan bahwa kepercayaan publik terhadap kampus dapat tergerus apabila komunikasi publik tidak dikelola secara bijak. Terlebih, humas memiliki tanggung jawab menjaga hubungan baik dengan media sebagai mitra strategis dalam penyampaian informasi kepada masyarakat.
IWO Karawang pun mendorong pihak rektorat untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap fungsi kehumasan, sekaligus memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
“Ini momentum bagi Unsika untuk berbenah. Keterbukaan terhadap kritik dan menghormati kerja jurnalistik adalah bagian dari budaya akademik yang sehat,” katanya.
Joen juga mempertanyakan komitmen pimpinan kampus dalam menyikapi persoalan tersebut. Menurutnya, ketegasan pimpinan menjadi kunci dalam menjaga marwah institusi.
“Jika rektor tidak mau mengambil langkah tegas terhadap oknum humas yang kerap membuat gaduh, maka nalar kita bertanya, apa yang membuat rektor tidak berani?” ucapnya.
Tak hanya IWO, lintas organisasi wartawan lain juga tidak tinggal diam. Mereka berencana menggelar aksi unjuk rasa ke kampus Unsika dalam waktu dekat.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak rektorat Unsika terkait dugaan ucapan tidak pantas yang dilontarkan oknum humas tersebut. Publik pun masih menunggu langkah konkret dari pihak kampus untuk menyelesaikan polemik yang dinilai berpotensi mencoreng nama baik institusi pendidikan tersebut.
(JS & Red)

Tidak ada komentar