Warga Binjai Desak Penutupan Galian C Diduga Ilegal, Lingkungan Rusak dan Kesehatan Terancam
Praktik penambangan tanah urug dan pasir yang berlangsung sekitar setahun terakhir itu dinilai telah melampaui batas, memicu keresahan, sekaligus mengancam lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Ratusan warga Lingkungan IX, Kampung Nangka, turun langsung menyuarakan tuntutan penutupan permanen.
Bagi mereka, aktivitas tersebut bukan sekadar pelanggaran administratif, tetapi telah berdampak nyata pada kehidupan sehari-hari.
Air sumur yang selama ini menjadi sumber kebutuhan utama dilaporkan mulai mengering. Di sisi lain, lalu lalang truk pengangkut material menimbulkan kepulan debu tebal yang terus-menerus terhirup warga.
“Setiap hari kami menghirup debu. Air sumur kami kering sejak ada galian itu. Ini sudah sangat meresahkan,”ujar salah seorang warga, menggambarkan situasi yang kian memburuk, Jumat (17-04-2026).
Tak hanya soal lingkungan, aspek keselamatan turut menjadi sorotan. Aktivitas alat berat dan intensitas kendaraan proyek dinilai berpotensi menimbulkan kecelakaan, terutama bagi warga yang bermukim di sekitar lokasi.
Sebagai bentuk protes, massa sempat memblokade jalan utama menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dengan membakar ban. Aksi ini menjadi simbol akumulasi kekecewaan warga terhadap aktivitas yang dinilai luput dari pengawasan.
Di tengah memanasnya situasi, Kapolsek Binjai Timur AKP Gusli Efendi turun langsung ke lokasi untuk mengendalikan kondisi. Ia memastikan situasi tetap kondusif meski sempat terjadi aksi pemblokiran jalan.
“Kami mengantisipasi massa yang sempat memblokade jalan lintas utama menuju TPA dengan membakar ban dan aksi lainnya,”ujarnya.
Lebih lanjut, pihak kepolisian menegaskan bahwa aktivitas galian C untuk sementara dihentikan hingga pengelola mampu menunjukkan legalitas resmi.
“Saya pastikan untuk sementara waktu galian C tidak akan beroperasi sampai pemilik menunjukkan dokumen operasional secara sah,”tegasnya.
Sementara itu, Camat Binjai Timur Muhammad Yusuf menyatakan pihaknya akan menindaklanjuti aspirasi warga dengan meneruskannya kepada Walikota Binjai. Pemerintah kecamatan, kata dia, membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan keluhan secara resmi.
“Kami akan menampung dan meneruskan seluruh aspirasi warga kepada bapak walikota untuk segera secepatnya ditindaklanjuti,”katanya.
Meski aksi berakhir tertib setelah perwakilan warga berdialog dengan aparat dan pemerintah setempat, tekanan publik belum surut.
Warga menegaskan akan kembali turun dengan jumlah massa lebih besar jika tuntutan mereka tidak segera direspons.
(SuDharTar)

Tidak ada komentar